Latest News

Showing posts with label Energi - Batubara. Show all posts
Showing posts with label Energi - Batubara. Show all posts

Thursday, 30 June 2011

Untuk Gantikan BBM Pemerintah akan Gunakan Batubara Cair

Butuh payung hukum yang kuat dan dukungan dari presiden. Pemerintah berencana menggunakan batubara cair untuk mengurangi beban penggunaan bahan bakar minyak (BBM) yang semakin meningkat. �Kita harus mengurangi konsumsi Bahan bakar Minyak, salah satunya adalah bagaimana batubara bisa kita cairkan kemudian kita jadikan BBM dimana nantinya bisa menggantikan pemakaian BBM,� kata Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro seusai bertemu wapres Jusuf Kalla di Jakarta, Senin.

Menurut Purnomo untuk itu, ia membutuhkan payung hukum yang kuat dan kebijakan secara nasional oleh Presiden Yudhoyono dan Wapres Jusuf Kalla. Namun ketika ditanyakan payung hukum seperti apa yang diinginkannya, Purnomo belum bisa menjawab karena ia harus mempresentasikan hal ini kepada Presiden Yudhoyono setelah kunjungan ke luar negeri.

�Yang jelas hal itu perlu dukungan dari Presiden Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla untuk keluarkan kebijakan untuk menggantikan BBM ini,� kata Purnomo.

Menurut rencana produksi batubara cair tersebut akan dilakukan di Sumatra Selatan karena memiliki cadangan batubara yang sangat besar. Saat ini cadangan batubara Indonesia sangat besar masih sekitar 70 tahun. Untuk itu bisa digunakan sebagai pengganti BBM yang untuk kebutuhan nasional saat ini mencapai 85,6 juta kilo liter per tahun. Penggunaan batubara cair, tambah Purnomo, saat ini juga telah dilakukan di Afrika Selatan.

Sementara itu menanggapi peran OPEC akibat harga minyak dunia yang terus meningkat, Purnomo mengatakan OPEC tidak bisa lagi lakukan kontrol atas harga minyak dunia.

OPEC, tambahnya saat ini hanya memiliki pangsa pasar minyak dunia sebesar 40 persen. �OPEC tidak bisa berdaya dengan penjualan minyak yang tak bisa dikontrol,� katanya. Meskipun, tambahnya saat ini OPEC telah berusaha untuk menaikan produksinya hingga 500 ribu barel. Sejauh ini, tambahnya pemerintah Indonesia setuju dengan segala usaha apapun juga untuk menurunkan harga minyak dunia.

Seiring dengan meningkatnya permintaan dan ketatnya produksi minyak dunia, harga minyak di pasar dunia pada triwulan keempat tahun 2005 menurut perkiraan pengamat perminyakan, Dr Kurtubi, bisa mencapai 60 dolar AS per barel.

�Sekarang kita sudah masuk ke triwulan kedua tetapi harga minyak masih bertahan pada 55 dolar AS. Saya khawatir kalau selama triwulan ini harga tetap bertahan pada kisaran itu, harga minyak pada triwulan ketiga dan keempat akan jauh melebihi perkiraan saya,� katanya kemarin.

Jika pada triwulan kedua tahun 2005 harga minyak dunia masih berkisar 55 dolar per barel maka, menurut dia, Indonesia dan dunia harus bersiap-siap menerima kenyataan melambungnya harga minyak West Texas Intermediate/WTI (yang menjadi acuan perdagangan minyak mentah dunia-red) selama tahun
2005-2006 akan mencapai 60 dolar per barel.

Biasanya, kata dia, berdasarkan perilaku permintaan minyak di pasar dunia, pada triwulan kedua harga minyak akan tertekan sehingga menjadi lebih rendah dibandingkan dengan harga minyak pada triwulan sebelumnya meskipun tidak akan lebih rendah dari 40 dolar per barel (batas bawah patokan harga minyak OPEC).

Namun hingga memasuki masa-masa awal triwulan kedua tahun 2005 harga minyak di pasaran dunia sama sekali tidak mengalami penurunan. �Hal ini terjadi karena faktor fundamental dimana permintaan minyak dunia sangat tinggi tahun 2005. Saya perkirakan jumlahnya mencapai 84 juta barel per hari atau sekitar
2 juta barel lebih banyak dibandingkan permintaan minyak tahun 2003 yang hanya 82,5 juta barel per hari,� katanya. Tingginya laju permintaan minyak pada tahun 2005 itu menurut dia disebabkan oleh masih tingginya laju permintaan minyak dari China yang belakangan ini juga diikuti oleh India.

sumber: http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=193264&kat_id=4

Tuesday, 21 June 2011

Industri Batu Bara Kita, Terbesar di Dunia

Laporan ABARE (Australian Bureau Research for Agriculture and Economic Resource) Maret 2007 perihal perdagangan batu bara dunia di tahun 2005-2006 menempatkan Indonesia sebagai pemasok batu bara terbesar (sekitar 25%) di dunia, disusul oleh Australia, Afrika Selatan, RRChina, Federasi Rusia, Kolombia, dan Amerika Serikat. Besaran pasokan batu bara Indonesia di dunia diperkirakan sebesar 158 juta di tahun 2006 atau terjadi peningkatan sekitar 28 persen dari tahun 2005, yaitu sekitar 123,3 juta ton.

Jikalau harga pasaran batu bara berdasarkan harga spot-market Asia pada tahun 2006 sekitar US$ 45, dapat diperkirakan besaran perdagangan batu bara Indonesia di tahun 2006 bernilai sekitar 7,1 miliar dolar atau sekitar 63,3 triliun rupiah. Oleh ABARE, ekspor batu bara Indonesia dipekirakan dapat mencapai 200 juta ton di tahun 2012.

Lebih lanjut bila mengamati pergerakan trafik ekspor batu bara Indonesia 2005-2006, dapat diinformasikan bahwa orientasi pasar kita selain ke sejumlah negara Uni-Eropa, juga didominasi oleh pasar Asia terutama China, Taiwan, India, dan Korea serta negara-negara sekitar ASEAN, yaitu Malaysia dan Thailand.

Paling tidak untuk pasar Asia saja, besaran pasar angkutan laut batu bara internasional Indonesia diperkirakan sekitar 233,8 miliar ton-mil belum termasuk operasi balik (ballast-voyage) dengan kebanyakan menggunakan kapal tipe bulk-carrier Handymax dengan kapasitas 40,000-50,000 deadweight-ton (DWT) per satuan pengapalannya (shipment).

Dengan asumsi charter-rate satu tahun rata-rata dunia (khususnya untuk tipe kapal handymax) pada tahun 2006 sekitar US$ 0,002-0,003 per ton-mil, nilai pasar angkutan (charter) kapal bulk-carrier dari Indonesia diperkirakan sekitar 780 juta atau kurang lebih 6,7 triliun rupiah. Yang berarti besaran pangsa angkutan laut batu bara untuk regio Asia mengambil porsi sekitar 10% dari nilai perdagangannya di tahun 2006.

Dengan asumsi pasokan cadangan batu bara nasional sekitar 5 miliar ton dan volume produksi per tahun sekitar 190 juta ton diperkirakan merupakan kekuatan utama yang menjadikan Indonesia tetap sebagai pemasok batu bara dunia paling tidak dalam 3 tahun mendatang. Sekalipun berbagai kendala produksi dan relatif besarnya permintaan batu bara secara domestik sekitar 35-36 juta ton per tahun dapat menjadi faktor yang mempengaruhi. Hal ini diasumsikan terjadi dengan catatan bila permasalahan keterbatasan infrastruktur logistik terutama pelabuhan di negara-negara kompetitor seperti Australia, Afrika Selatan dan Kolombia masih seperti saat ini.

Persoalan Serius yang Perlu Diatasi
Indonesia sendiri dalam percaturan perdagangan batu bara dunia memiliki persoalan krusial yang seharusnya dibantu oleh kebijakan pemerintah dalam penyelesaiannya. Persoalan-persoalan mendasar yang sedang dihadapi industri batu bara kita saat ini berkisar pada lemahnya investasi eksplorasi dan eksploitasi batu bara, semakin tingginya biaya produksi, isu kepemilikan dan kompensasi lahan, serta terbatasnya jalur sungai dalam transportasi tongkang batu bara termasuk kehandalan kapal angkut tongkang batu bara itu sendiri.

Investasi baru di bidang batu bara secara dominan hanya terlihat jelas dengan masuknya Tata Power (sebuah perusahaan grup konglomerat Tata-India) yang mengakuisisi sekitar 30% saham PT. Bumi Resources, terutama di dua perusahaan besar yang menguasai sekitar 50% produksi batu bara Indonesia, yaitu PT. Kaltim Prima Coal dan PT. Arutmin dengan nilai investasi sekitar 1,3 miliar dolar AS di awal tahun 2007 ini. Selain investasi baru ini (yang praktis berorientasi pada lahan eksploitasi eksis), tidak terlihat rencana penguatan daya saing logistik batu bara nasional secara signifikan.

Sementara itu, kompetitor kita terus melakukan ekspansi pelabuhan batu baranya secara masif dengan dukungan dana investasi yang relatif besar. Di Australia misalnya walaupun terjadi problem antrean di beberapa pelabuhan utama mereka seperti di wilayah Newcastle, yaitu pelabuhan Kembla, namun realisasi ekspansi pelabuhan batu bara dan jalur kereta api oleh pemerintah Australia di pelabuhan Waratah, Gladstone, dan Hay-point mulai tahun 2008 dapat beroperasi guna mengakomodasi sekitar 100 juta ton tambahan dari lahan eksploitasi baru di Wambo dan Ulan Longwall (Newcastle), Wilpinjong (New South Wales), dan Cogan-Creek di Queensland.

Sementara di Afrika Selatan pengembangan Richard-Bay Coal Terminal diperkirakan dapat menambah sekitar 20 juta ton di tahun 2007 ini. Hal yang sama juga terjadi di Kolombia di mana pemerintah telah mengeluarkan dana sekitar 300 juta US$ untuk pengembangan Santa Marta Bay untuk pengembangan jalur kereta-api dan pelabuhan dengan proyeksi kapasitas perdagangan baru hingga sekitar 80 juta ton mulai tahun 2008.

Kekuatan sekaligus Kelemahan
Secara logistik, kekuatan Indonesia berada pada pola angkutan sungai yang memang hingga saat ini merupakan moda yang lebih kompetitif dibandingkan dengan pola kereta api (rail) ke pelabuhan angkut seperti yang dilakukan di Australia, Afrika Selatan, dan Kolombia. Biaya angkut dengan menggunakan tongkang sekitar US$ 0,015 per ton-km, sementara dengan menggunakan kereta-api minimal sekitar US$ 0,3-0,4 per ton-km.

Maka, mengingat situasi alur sungai di wilayah Kalimantan yang semakin padat dan laju pendangkalannya mencemaskan, pemerintah dan pengusaha industri batu bara perlu secara cepat menanggulanginya.

Dalam masa ke depan, seharusnya industri maritim kita dapat memanfaatkan pasar batu bara yang menguntungkan ini untuk pengembangan armada angkutan batu bara nasional baik untuk tipe tongkang dan bulk-carrier. Pengembangan bulk-carrier tipe handymax sebaiknya dapat dikonsentrasikan di dalam negeri mengingat kemampuan dan kapasitas riil galangan-galangan kapal kita di Surabaya, Jakarta, dan Batam dapat memenuhi kebutuhan itu. Investasi pemerintah perlu digiatkan untuk pembangunan prasarana perkapalan batu baru, agar menjadi tuan di rumahnya sendiri.

Hal lain berkaitan dengan isu tentang pemanasan global (green-house effect) diperkirakan dapat menjadi rintangan baru bagi indutri batu bara dunia di masa depan. Batu bara masih dianggap sebagi penghasil emisi gas buang yang dominan terhadap dunia seperti yang dinyatakan dalam konvensi Kyoto-Protocol yang memungkinkan terjadinya perlambatan konsumsi batu bara dunia sebagai sumber listrik mungkin hingga kurang dari 7% seperti pertumbuhan di tahun 2005-2006.

Kita bagai memegang buah simalakama, di satu sisi produsen terbesar batu bara di dunia, pada sisi lain bisa menjadi penyumbang terbesar polusi dunia. Di sini juga perlu dicari jalan keluarnya.

Oleh : Saut Gurning
Penulis adalah pengamat maritim ITS Surabaya. Sekarang sedang mengambil program
PhD di Australia Maritime College (AMC), Tasmania, Australia.

Wednesday, 15 June 2011

LITBANG TEKNOLOGI PENGOLAHAN DAN PEMANFAATAN BATUBARA

Kegiatan Litbang Teknologi Pengolahan dan Pemanfaatan Batubara meliputi litbang, perekayasaan dan pelayanan jasa di bidang karakterisasi, teknologi pengolahan, konversi dan pembakaran batubara.

Litbang ini dilakukan secara terpadu dengan kelompok-kelompok litbang lain yang ada di tekMIRA dengan sasaran utama mendukung program pemerintah dalam mengurangi subsidi BBM/kayu bakar melalui diversifikasi energi, peningkatan penggunaan batubara dalam negeri, penghematan dan peningkatan devisa melalui ekspor serta peningkatan PNBP seperti terlihat dalam Gambar 1.

Litbang Teknologi Pengolahan dan Pemanfaatan Batubara telah dirintis sejak awal tahun 1970-an, dan terus berkembang mengingat batu bara yang semula hanya dibakar untuk diambil panasnya, kemudian diproses untuk mendapatkan batubara dengan kualitas yang lebih baik atau bahan yang lebih bersih dan ramah terhadap lingkungan.

Sampai dengan akhir tahun 1980 sebagian besar kegiatan litbang teknologi pengolahan dan pemanfaatan batubara masih dalam skala laboratorium. Namun sesudah itu kegiatan litbang sudah mengarah kepada aplikasi dengan membangun berbagai pilot plant yang diharapkan dapat mengetahui optimalisasi proses, pengujian produk pada pengguna dan kelayakan ekonomi dari proses tersebut.

Untuk mempercepat implementasi hasil litbang teknologi pengolahan dan pemanfaatan batubara pada skala industri, tekMIRA sedang dan akan membangun beberapa pilot plant di Palimanan Cirebon dalam suatu Pusat Teknologi Batubara Bersih yang disebut Clean Coal Technology Centre atau disingkat Coal Centre.

Kegiatan unggulan Litbang Teknologi Pengolahan dan Pemanfaatan Batubara terdiri dari peningkatan kualitas batubara peringkat rendah melalui proses Upgraded Brown Coal (UBC), pengembangan briket, gasifikasi, pencairan dan pembuatan kokas. Sedangkan hasil yang sudah dapat diimplementasikan diantaranya penggunaan briket untuk peternakan ayam, pemindangan ikan, ekstraksi daun nilam dan penggunaan batubara sebagai bahan bakar langsung pada industri bata, genteng, kapur dan industri gula merah.

Litbang Teknologi Pengolahan dan Pemanfaatan Batubara didukung oleh fasilitas :
* Laboratorium penelitian dan penerapan.
* Laboratorium pengujian sifat kimia dan fisika yang telah terakreditasi berdasarkan ISO 17025.
* 51 orang tenaga fungsional terdiri dari peneliti, perekayasa dan teknisi dari berbagai keahlian berdasarkan disiplin ilmu, yang berbeda-beda antara lain : kimia dan fisika batubara, pengolahan batu bara dan teknologi pemanfaatan batu bara.

Untuk lebih mempercepat program Litbang Teknologi Pengolahan dan Pemanfaatan Batubara telah dilakukan kerjasama dengan berbagai institusi litbang baik di dalam negeri maupun luar negeri, antara lain :
* Pembangunan pilot plant briket bio batubara kerjasama dengan NEDO-METI, (Jepang).
* Pembangunan pilot plant peningkatan kualitas batubara peringkat rendah dengan proses UBC kerjasama dengan Kobe Steel (Jepang), JCOAL (Jepang) dan BPPT.
* Pencairan batubara Indonesia kerjasama dengan NEDO (Jepang) dan BPPT.
* Daur ulang minyak bekas dengan menggunakan batubara sebagai absorban, kerjasama dengan KOBE Steel (Jepang) dan LEMIGAS.
* Proses pengeringan teh dengan batubara melalui gasifikasi kerjasama dengan PPTK Gambung.
* Pengujian sifat kimia dan fisika batubara kerjasama dengan PT. Surveyor Indonesia, PTBA dan perusahaan batubara lainnya.

Pembangunan dan kegiatan litbang pilot plant briket biobatubara dan pilot plant UBC dilakukan di SENTRA TEKNOLOGI PEMANFAATAN BATUBARA DI PALIMANAN CIREBON.

Karya Litbang Teknologi Pengolahan dan Pemanfaatan Batubara yang meliputi teknologi pengolahan, teknologi konversi dan teknologi pembakaran yang diaplikasikan, diantaranya :

1. Teknologi Pengolahan

* Peningkatan kualitas batubara peringkat rendah dengan proses Upgraded Brown Coal (UBC).
* Percobaan penerapan teknologi coal water fuel sebagai bahan bakar boiler pada industri tekstil.
* Pengembangan metode penurunan kadar natrium batubara Lati, Berau, Kalimantan Timur.
* Pengembangan metode pencampuran batubara (coal blending) Kalimantan Tengah untuk pembuatan kokas metalurgi.
* Pencucian batubara.
* Desulfurisasi limbah batubara dengan flotasi kolom.

2. Teknologi Konversi

* Pengembangan briket kokas dari batubara dan green coke.
* Proyek pencairan batubara 2002 : uji tuntas (due diligence) pre-FS Batu Bara Banko.
* Pengembangan briket bio coal Palimanan.
* Pemanfaatan produk gasifikasi batubara untuk pengeringan teh di Gambung Ciwidey, Jawa Barat.
* Briket kokas untuk pengecoran logam.

3. Teknologi Pemanfaatan Batubara

3.1. Bahan Bakar Langsung
* Penyerapan gas SO2 dari hasil pembakaran briket bio batubara dengan unggulan zeolit.
* Pengembangan model fisik tungku pembakaran briket biocoal untuk industri rumah tangga, pembakaran bata/genteng, boiler rotan dan pengering bawang.
* Tungku hemat energi untuk industri rumah tangga dengan bahan bakar batubara/briket bio batubara.
* Pembakaran kapur dalam tungku tegak system terus menerus skala komersial dengan batubara halus menggunakan pembakar siklon.
* Tungku pembuatan gula merah dengan bahan bakar batubara.
* Pembakaran kapur dalam tungku system berkala dengan kombinasi bahan bakar batubara � kayu.
* Pembakaran bata-genteng dengan batubara.

3.2. Non Bahan Bakar
* Pengkajian pemanfaatan batubara Kalimantan Selatan untuk pembuatan karbon aktif.
* Daur ulang minyak pelumas bekas dengan menggunakan batubara peringkat rendah sebagai penyerap.

sumber : Tekmira http://www.tekmira.esdm.go.id/