Pembangkit Fukushima Dai-Ichi sebelum tsunami terjadi
KOMPAS.com - Gempa dan tsunami yang terjadi di Jepang Jumat (11/3/2011) lalu memang telah mengakibatkan krisis nuklir. Sistem pendingin tak berfungsi sehingga sejumlah reaktor terancam lumer. Jepang harus sekuat tenaga mendinginkan reaktor dan berjuang melawan radiasi zat radioaktif.
Melihat hal tersebut, beberapa kalangan di Indonesia menganggap bahwa PLTN adalah teknologi yang berbahaya. Dengan adanya beberapa wilayah Indonesia yang rawan gempa, maka dikhawatirkan kasus Jepang akan terulang di Indonesia.
Melihat kasus Jepang, haruskah pengembangan PLTN di Indonesia digagalkan? Benarkah tak bisa dipilih lokasi tertentu di Tanah Air yang tak rawan gempa sehingga pengembangan PLTN tetap bisa dilanjutkan?
Prof. Dr. Zaki Su'ud dari Kelompok Keahlian Nuklir dan Biofisika ITB, serta Dr. Irwan Meilano dari Kelompok Keahlian Geodesi Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB membahasnya dalam konferensi pers di ITB 15 Maret 2011 lalu.
Irwan mengungkapkan perbedaan wilayah geografis Jepang dan Indonesia. Menurutnya, tak ada lokasi di Jepang yang tak rawan gempa sementara Indonesia masih punya wilayah berpotensi gempa rendah. Dengan demikian, PLTN masih bisa dikembangkan.
"Daerah-daerah inilah yang seharusnya digunakan untuk lokasi pembangunan PLTN," papar Irwan. Menurutnya, Jepang saja yang seluruh daerahnya berpotensi gempa 40 persen kebutuhan listriknya disuplai dari PLTN.
Irwan mengungkapkan, berdasarkan peta zonasi gempa, Indonesia memiliki wilayah berpotensi gempa rendah, yakni Bangka Belitung, Kalimantan, dan bagian utara Banten. Wilayah lain berpotensi gempa tinggi dan sedang.
Zaki mengatakan bahwa PLTN sebenarnya pantas dikembangkan. Dalam perbincangan dengan Kompas.com, tenaga nuklir memiliki kelebihan dibandingkan dibandingkan sumber energi alternatif lainnya.
"Jangan lupakan fakta bahwa nuklir adalah sumber energi murah. Listrik dari PLTN hanya dihargai Rp 300 s.d. Rp 350 per kWh. Bahkan, PLTN generasi keempat dapat menyediakan listrik dengan tarif Rp 150 s.d. Rp 200 per kWh," papar Zaki. "Inilah sebabnya pemerintah China saat ini menggalakkan pembangunan PLTN," lanjut Zaki.
PLTN juga menurutnya memiliki kelebihan karena tidak menghasilkan emisi karbon seperti sumber lainnya.
Zaki mengungkapkan, dalam membangun PLTN yang terpenting adalah belajar dari potensi bencana. "Buat desain yang meminimalisir terjadinya kerusakan akibat bencana. Pastikan margin of safety telah memadai," ungkapnya.
Sumber : http://sains.kompas.com/read/2011/03/21/2306146/PLTN.di.Indonesia.Tidak.Harus.Dibatalkan
Pada hari Jumat,18 Maret 2011, NISA (Badan Pengawas Keselamatan Industri dan Nuklir Jepang) mengeluarkan informasi pada sekitar pukul 18.00 tentang dinaikannya level INES (International Nuclear Events Scale) dari level 4 menjadi level 5 dari skala 7. Peningkatan level ini dilakukan karena lebih dari 3% bahan bakar (fuel) telah mengalami kerusakan (damage). Menurut berita NHK, level 5 ini sama dengan level ketika terjadi kecelakaan pada Three Mile Island-2 (TMI-2) yang terjadi pada tahun 1979.
Namun pengumuman skala INES menjadi 5 oleh pemerintah Jepang ini tidak diikuti dengan perluasan daerah evakuasi seluas 20-30 km.
Perlu diketahui bahwa 350 mSv/hr adalah kriteria yang digunakan World Nuclear Association untuk merelokasi warga sejauh 300 km setelah peristiwa ledakan Chernobyl.
Hingga saat ini KBRI Tokyo juga belum mengubah rekomendasinya terkait penentuan radius evakuasi, yaitu tetap 50 km. Oleh karena itu, semua WNI di Jepang diminta untuk tetap tenang dengan tetap memperhatikan sumber-sumber informasi dari Pemerintah Jepang dan KBRI Tokyo.
Mengapa upaya evakuasi belum dilakukan? Ada 3 alasan yang dapat menjawab pertanyaan ini, adalah sebagai berikut :
1. Ledakan di unit 1 dan 3 adalah ledakan yang disebabkan oleh akumulasi gas Hidrogen.
Seiring dengan naiknya suhu bahan bakar akibat tidak berfungsinya sistem pendingin, terjadi oksidasi pada tube bahan bakar yang terbuat dari Zirconium alloy dengan reaksi sebagai berikut :
Zr + 2 H2O �> ZrO2 + 2 H2
Semakin tinggi suhu reaktor maka semakin tinggi pula laju reaksinya. Akibat akumulasi gas hydogen, tekanan reaktor meningkat.
Tekanan yang terlalu besar akan membahayakan integritas struktur reaktor. Oleh karena itu, operator Fukushima melakukan venting (membuka pressure relieve valve, katup penurun tekanan) dengan harapan tekanan di reaktor dapat dikurangi.
Dengan proses venting ini, hidrogen akan terakumulasi di antara sungkup reaktor (terbuat dari baja) dan bangunan reaktor (beton).
Hal inilah yang penyebab ledakan akibat akumulasi gas hydogen. Perlu ditekankan disini bahwa ledakan yang terjadi bukan ledakan yang disebabkan reaksi fisi dan ledakan ini terjadi di luar reaktor, sehingga tidak ada peningkatan zat radioaktif pasca ledakan.
2. Kejadian meningkatnya level radioaktif yang drastis sebesar 400 mSv/hr, disebabkan karena kolam tempat menyimpan bahan bakar yang telah digunakan kehabisan air akibat kebakaran yang terjadi di unit 4. Air dalam kolam habis, zat radioaktif bahan bakar yang telah digunakan inilah yang menyebar ke lingkungan.
Perlu diperhatikan disini bahwa, bahan bakar yang sudah dipakai (spent fuel) selalu disimpan terlebih dahulu di dalam kolam di sebelah reaktor sebelum dikirim kesuatu tempat untuk di daur ulang. Zat radioaktif akan tetap aman apabila berada di dalam permukaan air.
Pada saat terjadi gempa tanggal 11 Maret 2011, PLTN Fukushima Unit 4 sedang tidak berfungsi. Tidak seperti Unit 1, 2, dan 3, unit 4 dalam keadaan maintenance sejak 30 November 2010 atau bahan bakar telah berada di kolam sekitar 100 hari yang lalu.
60% spent fuel disimpan di kolam ini (34% di masing-masing reaktor, 6% di kontainer kering). Bahan bakar ini mengadung zat radioaktif yang sangat tinggi dan energi panasnya pun masih sangat besar.
Akibat energi panas yang besar ini di dalam bangunan unit empat terlihat 2 kali mengeluarkan asap, pada tanggal 15 Maret 2011 dan 16 Maret 2011 jam 06:00. Suhu air kolam berubah dari 25 derajat celcius menjadi 84 derajat celcius.
Hal ini murni karena kelalaian para pekerja disana. Namun masalah ini segera dapat diselesaikan dan level radioaktif kembali ke level semula.
3. Tidak terjadi kebocoran pada reaktor. Intensitas zat radioaktif sebesar ratusan mikro-sievert disebabkan oleh ber-difusi-nya partikel-partikel kecil zat radioaktif. Tidak adanya bangunan beton tebal akibat ledakan menyebabkan intensitas zat radioaktif disekitar pembangkit meningkat.
Karena alasan inilah Jepang yakin dan mampu untuk mencegah zat radioaktif menyebar lebih luas lagi.
Sumber : http://konversi.wordpress.com/2011/03/15/mengetahui-lebih-jauh-lagi-tentang-kecelakaan-pltn-fukushima-dan-kekhawatiran-kita-pun-mereda/
Metrotvnews.com, Semarang: Mantan Presiden B.J. Habibie menilai sebaiknya jangan buru-buru menolak pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) menyikapi krisis nuklir yang terjadi di Jepang.
"Lihat dulu hasil kajian pakar tentang energi nuklir, terutama di dua negara, yakni Jepang dan Prancis," kata Habibie usai kuliah umum "Perkembangan Teknologi dan Wawasan Indonesia" di Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (19/3).
Menurut dia, para pakar saat ini tengah mengkaji pemanfaatan PLTN di Jepang dan Prancis. Dua negara itu paling besar berinvestasi dalam pemanfaatan energi nuklir. Jepang dan Prancis selama ini sangat tergantung dengan energi nuklir, terutama untuk menghasilkan energi listrik buat industri.
"Kalau kemudian mereka (Jepang dan Perancis, red) harus mematikan begitu saja (pemanfaatan energi nuklir) tidak mungkin bisa, sebab pergerakan dunia industri di negara itu akan macet," katanya.
Begitu tergantungnya dua negara itu terhadap energi nuklir, kata dia, butuh waktu untuk memutuskan apakah tetap memanfaatkan nuklir atau tidak, belum ada energi pengganti lain yang sanggup mencukupi.
Karena itu, Habibie mengatakan perlu melihat hasil kajian dari pakar terkait pemanfaatan nuklir di dua negara itu, terlebih setelah melihat dampak kerusakan PLTN di Fukushima, Jepang akibat gempa bumi dan tsunami.
Ditanya urgensi pembangunan PLTN di Indonesia, ia mengatakan perlu menunggu hasil kajian pakar dari pemanfaatan nuklir didua negara itu secara objektif dan jangan langsung menolak pembangunan PLTN.
Ia menjelaskan urgensi pembangunan PLTN sebenarnya berkaitan dengan aspek ekonomi dan kebutuhan energi sehingga perlu melihat terlebih dulu hasil kajian, tanpa terburu-buru mengatakan pembangunan PLTN adalah hal tabu.
"Saya tidak menolak (pembangunan PLTN, red.), namun sebaiknya tetap harus berhati-hati dalam mengambil keputusan. Tidak menolak, namun tetap kritis, lihat dulu bagaimana hasil kajian di dua negara itu," kata Habibie.(Ant/ICH)
Sumber : http://www.metrotvnews.com/metromain/news/2011/03/19/45880/Habibie-Jangan-Buru-buru-Tolak-PLTN
Wina - Lembaga Atom Perserikatan Bangsa-Bangsa menilai saat ini, belum ada indikasi kebocoran nuklir dalam ledakan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di Fukushima, Jepang. Namun situasi bisa saja berubah.
"Kami tidak mendapat indikasi ada kebocoran nuklir saat ini," ujar Direktur Keselamatan Reaktor Nuklir IAEA (International Atomic Energy Agency), James Lyons dalam jumpa pers seperti ditulis AFP, Senin (14/3/2011).
Namun Lyons memberi catatan, jika situasi di reaktor Nuklir tersebut sangat dinamis. Sehingga masih ada kemungkinan-kemungkinan lain.
Berbeda Dengan Chernobyl
IAEA juga menduga jika kerusakan reaktor nuklir di Fukushima, tidak akan berakibat fatal seperti bocornya reaktor nuklir Chernobyl di Ukraina tahun 1986 silam. Di Chernobyl, ratusan ribu orang terkena radiasi akibat bocornya reaktor tersebut.
Kepala IAEA Yukiya Amano menegaskan PLTN Fukushima akan mematikan reaktornya secara otomatis saat terjadi bencana alam.
"Tidak ada kemungkinan reaktor masih terus bekerja," kata Amano.
Selain itu, reaktor di Fukushima juga mempunyai benjana pengaman. Hal ini tidak dimiliki reaktor Chernobyl. "Walau ada dua ledakan, ini masih aman," terangnya.
Senin (14/3), reaktor nuklir di PLTN Fukushima Daiichi, Jepang, meledak lagi. Ledakan berasal dari reaktor nomor 3.
Asap tampak membumbung dari PLTN tersebut. Badan Nuklir Jepang mengkonfirmasikan ledakan tersebut terjadi di reaktor nomor 3 di reaktor nuklir Daiichi di Fukushima. Namun ledakan itu tidak sampai merusak tempat reaktor.
Sumber : http://www.detiknews.com