Mengantri untuk memperoleh bahan bakar minyak, tidak terkecuali minyak tanah, bukan hanya monopoli penduduk di perkotaan, tetapi di pedesaan juga lebih parah saat ini. Upaya untuk memproduksi Biogas dari bahan-bahan yang tersedia secara lokal, untuk memenuhi sebagian kebutuhan bahan bakar konsumsi rumah tangga, telah dirintis di PRIMA TANI Kabupaten Bone. Biogas ini merupakan suatu inovasi teknologi yang akan berdampak luas, termasuk menghemat pengeluaran rumah tangga tani, konservasi lingkungan dan membuka peluang agribisnis pupuk kompos di masa depan.
Prima Tani di Bone
Kabupaten Bone, satu dari 23 kabupaten/kota di Sulawesi Selatan terletak di pantai timur Sulawesi Selatan. Kabupaten ini mengandalkan perekonomiannya pada dua sektor utama, yakni, sektor pertanian di daratan serta sektor maritim Teluk Bone dan wilayah pesisir sebagai pendukungnya. Program Rintisan dan Akselerasi Diseminasi Inovasi Teknologi Pertanian (Prima Tani) Kab. Bone memilih komoditas padi, jagung dan ternak sapi, sebagai komoditas andalan penggerak ekonomi pedesaaan dalam Sistem Usahatani Intensifikasi dan Diversifikasi yang bermuara pada Agribisnis Industrial Pedesaan. Salah satu desa binaan Prima Tani adalah Desa Pattiro Bajo, Kecamatan Sibulue.
Desa Pattiro Bajo mempunya penduduk sekitar 1.226 jiwa yang tergabung dalam 290 rumah tangga atau dengan rata-rata empat orang per rumah tangga. Desa ini memiliki lahan sawah seluas 390 ha, dimana kurang dari separuhya beririgasi sehingga digolongkan sebagai usahatani lahan sawah semi intensif. Selain itu, terdapat pula lahan kering seluas 220 ha lebih yang digunakan untuk tanaman pangan padi dan palawija, terutama jagung.
Populasi ternak sapi yang terdapat di Desa Pattiro Bajo ini sekitar 300 ekor, belum termasuk sekitar 50 ekor sapi yang berasal dari bantuan Program Gerakan Optimalisasi Sapi/GOS (Pemerintah Propinsi Sulawesi Selatan) sebagai program sinergis. Dengan komoditas unggulan inilah, Sistem Integrasi Tanaman dan Ternak Sapi (Crops � Livestock System/CLS) dikembangkan dan melahirkan suatu Model Unit Produksi Biogas Sederhana Skala Rumah tangga petani di wilayah ini.
Unit Produksi Biogas Prima Tani Bone
Unit Produksi Biogas Prima Tani Bone ini memanfaatkan kotoran ternak sapi yang melimpah dari kandang kolektif. Kotoran ternak tersebut lalu ditampung pada tangki/kontainer pencerna berupa susunan cincin semen atau gorong-gorong sumur yang dapat dirakit sendiri oleh petani. Tangki penampungan yang terbuat dariPenggunaan Biogas dari Limbah Ternak Sapi bahan-bahan lokal dan mudah didapat tersebut menjadikan inovasi teknologi ini mudah diterima.
Selain itu, diperlukan pula sebuah drum besar bervolume 200 liter, yang salah satu sisinya dibuang, dan sisi lainnya diberi pipa dan kran gas. Drum ini yang dipasang terbalik diatas kontainer pencerna dan berfungsi sebagai penampung gas Methane (CH4). Gas Methane yang terkumpul dalam drum tersebut selanjutnya dialirkan melalui pipa ke dapur sebagai bahan bakar kompor untuk memasak.
Dengan Prototipe Unit Produksi Biogas Prima Tani Bone yang berbahan dasar kotoran sapi ini, gas untuk memasak didapatkan pada minggu kedua setelah kotoran sapi dimasukkan ke tangki pencerna. Proses produksi biogas tersebut dapat berlangsung selama delapan minggu berikutnya, dengan menyediakan gas yang digunakan memasak 3 hingga 4 jam per harinya.
Manfaat lain
Bukan hanya itu, manfaat lain dari Unit Produksi Biogas Prima Tani Bone ini adalah pengembangan Agribisnis Pupuk Kompos yang diperoleh dari buangan tangki atau kontainer pencerna setelah Biogas tidak terbentuk lagi. Pupuk kompos yang dihasilkan berkualitas prima, tanpa kekhawatiran pupuk membawa penyebaran gulma yang biasa terjadi dikalangan petani.
Pemanasan dalam tangki pencerna akan mematikan lembaga biji gulma sehingga tidak akan berkecambah lagi jika digunakan di lahan pertanian. Demikian pula lingkungan desa semakin bersih dari kotoran sapi yang selama ini dibiarkan berserakan, bahkan di bawah kolong rumah tinggal petani.
Mungkin tidak berlebihan jika Tim Prima Tani Bone memberi nama �Unit Produksi Biogas Tipe Bone Prima� untuk prototipe alat produksi Biogas sederhana, berbahan dasar lokal, tidak rumit, menggunakan cincin gorong-gorong dan drum bekas dalam proses produksi An-aerob (bebas udara) sehingga tidak berbau ini. Siapa menyusul ?.
Sumber : http://www.litbang.deptan.go.id/berita/one/655/
Untuk mengurangi ketergantungan pada energi berbahan bakar minyak, sejumlah perusahaan mulai memanfaatkan energi alternatif. Langkah itu pula yang kini diterapkan PT Budi Acid Java Tbk, yang mencoba untuk mengembangkan energi listrik melalui pemanfaatan biogas. Selain menghemat biaya operasional, biogas merupakan salah satu energi yang terarah lingkungan, karena dihasilkan dari proses fermentasi bahan-bahan organik. Menurut Wakil Direktur Utama Budi Acid Sudarmo Tasmin, langkah perseroan membangun pembangkit listrik tenaga biogas tersebut juga untuk meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Karena, biogas yang akan diperoleh berasal dari produk limbah perusahaan seperti tapioka. "Bayangkan saja, dari limbah yang susah payah kami kelola dan sebelumnya tidak bermanfaat, bisa menghasilkan energi listrik bagi perusahaan," jelas Sudarmo kepada Investor Daily di Jakarta, pekan ini.
Selama ini, perusahaan yang bergerak di industri kimia dan bahan makanan itu selalu meng- gunakan bahan bakar batu bara untuk pengeringan produk, tenaga listrik dari PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), dan minyak solar serta bensin untuk kegiatan operasional. "Tentunya, dengan membangun pembangkit listrik tenaga biogas dari hasil limbah, perusahaan dapat menghemat biaya cukup besar," ujar Sudarmo. Untuk mendukung rencana tersebut, lanjut Sudarmo, pada akhir Februari 2007, perseroan akan menggelar rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) guna meminta persetujuan pemegang saham. Hal itu dimaksudkan agar proyek dapat segera berjalan. "Kami optimistis, upaya tersebut akan disetujui para pemegang saham, karena sangat mengiintungkan bagi perseroan," tambah dia.
Sudarmo menjelaskan, untuk membangun pembangkit listrik tenaga biogas berkapasitas 5,7 mega watt (MW), dibutuhkan investasi sekitar US$ 7 juta. Dana untuk merealisasikan proyek tersebut berasal dari internal perseroan sebesar 50% dan sisanya pinjaman dari investor Jepang (Sumitomo Corporation dan Nedo). "Pinjaman itu bentuknya ree payment, yang nantinya akan dibayar dengan penerbitan sertifikat penurunan emisi karbondioksida yang bisa diperjual belikan," jelasnya. Kendati demikian, Sudarmo menegaskan, bisnis utama perseroan di industri kimia dan ba� han makanan tetap akan berjalan. Pembangkit listrik tenaga biogas tersebut hanya sebagai energi alternatif untuk mengganti tenaga listrik dari PLN. Apalagi, pengembangan energi altematif berbalian dasar biogas itu tidak akan ditawarkan ke pihak lain. "Kami belum ada niat untuk (menjual) ke luar. Jadi, hanya untuk kepentingan perusahaan," jelasnya.
Sekretaris Perusahaan Budi Acid Jaya Mawarti Wongso menambahkan, pembangkit listrik tenaga biogas tersebut sifatnya hanya untuk efisiensi biaya operasional perusahaan. Sedangkan pasokan listrik dari PLN akan digunakan sebagai cadangan bila pembangkit listrik tenaga biogas bermasalah. Pelaksanaan pembangunan proyek pembangkit listrik tenaga biogas tersebut menurut Sudar� mo, akan dilakukan perseroan dengan pengawasan dari Papop, konsultan dari Thailand, yang berpengalaman menangani pengembangan biogas. "Sedangkan mesin utama yang akan digunakan adalah gas engine generator set buatan Spanyol," jelasnya. Beri Insentif Sementara itu, pengamat perminyakan Kurtubi berpendapat, pemeirintah semetinya memberi-kan insentif bagi perusahaan yang mengembangkan energi altematif, seperti biodiesel maupun biogas.
Langkah perusahaan tersebut membantu mengurangi beban pemerintah, karena ketergantu- ngannya pada bahan bakar minyak. "Pemerintah harus mendukung, sehingga impor BBM juga bisa dikurangi," ujar dia kepada Daily. Dia menambahkan, prospek bahan bakar alternatif lain, seperti dari bahan nabati, minyak sawit, jarak pagar, atau tepung singkong untuk ethanol sangat cerah dan menjanjikan untuk jangka pan� jang. Apalagi, saat ini kebutuhan bahan bakar minyak cukup tinggi, sedangkan ketersediaan sangat terbatas. "Harganya (BBM) juga cenderung meningkat dan tidak bisa diperkirakan " jelasnya. Menurut dia, sejumlah penelitian menyebutkan, bahan bakar alternatif yangberasal dari limbah kotoran hewan maupun sisa makanan dari pengolahan pabrik, bisa dijadikan bahan bakar gas untuk industri. Kondisi itu pun dapat menghemat biaya, karena menggantikan peraakaian BBM. "Kita tahu, cepat atau lambat, minyak bumi dan gas akan habis, sehingga bisa terjadi krisis energi akibat penggunaannya yang terus meningkat untuk kendaraan bennotor dan industri," tegas dia.
Pengurus Asosiasi Analis Teknikal Indonesia (AATI) Muham� mad Alfatih juga berpendapat senada. Pengembangan energi alternatif memerlukan dana yang tidal sediidt, sehingga perlu adanya in sentif berupa pinjaman lunak un tuk mendukung terciptanya energi yang bisa mengurangi ketergantungan terhadap BBM. Alfatih menambahkan, bahan bakar alternatif seperti biodiesel, biomethanol, maupun biogas memiliki prospek yang cukup cerah. Apalagi, dibandingkan dengan bahan bakar minyak maupun batu bara, biogas tersebut tidak mencemari lingkungan. Proyeksi 2007 Tahun ini, Budi Acid memproyeksikan iaba bersih sekitar Rp 40 miliar atau meningkat dua kali lipat dari target 2006 sebesar Rp 20 miliar. "Kami optimistis, proyeksi itu aJcan tercapai, tcrutama setelah pembangiman pcmbangkit listrik tenaga biogas seleeai, sehiugga ada efisiensi biayaoperasional/'kataSudanno. Dia mengatakan, selain laba bersili yang diperkirakan mening- kat, penjualan bcrsih periisahaan juga diproyeksikan nail; menjadi Rp 1,2 triliun dari proyeksi 2006 sebesar Rp 1 triliun.
Sementara itu, lanjut Sudarmo, laba bersih pada 2006 diperkirakan mencapai Rp 20 miliar dari tahun sebelumnya Rp 2 miliar atau meningkat sekitar 900%. Potensi peningkatan ini karena adanya efisiensi, pengurangan pinjaman, dan keuntungan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Per 30 September 2006, pen jualan bersih perseroan tercatat sebesar Rp 804,87 miliar atau bertambah 3,94% dibanding periode sama 2005 senilai Rp 774,37 miliar. Peningkatan penjualan selama kuartai III 2006 tersebut diikuli kenaikan laba bersih, yang her- tumbuh 684,32% menjadi Rp 15,56 miliar dari periode sama tahun sebelumnya Rp 1,98 miliar. Budi Acid Jaya didirikan pada 15 Januari 1979 dengan nama PT North Aspac Chemical Industrial Company. Ruang lingkup kegiatan usaha Budi Acid terutama di industii pengolahan bahan ma- kanan dan bahan kimia, serta semua hasil derivatif (turunannya) yang diproses dari ketela pohon, ubi manis, ubi jalar, kelapa sawit, kopra, dan hasil bumi lainnya.
Saat ini, perusahaan bergerak dalam bidang produksi dan penjualan tapioka, asam sitrat, karung plastik, asam sulfat, dan bahan- bahan kimia lainnya. Perusahaan yang berkantor pusat di Jakarta itu memiliki pabrik di Subang, Lampung, dan Jambi. Perusahaan mulai beroperasi secara komersial pada Januari 1981. Hasil produksi dipasarkan di pasar lokal dan ekspor, di antaranya ke beberapa negara Eropa dan Asia. Pada 1995, perseroan melakukan penawaran umum perdana saham sebanyak 30.000.000 saham dengan nilai nominal sebesar Rp 500 per saham. Perusahaan telah mencatatkan selumh sahamnya di Bursa Efek Jakarta (BEJ) pada 8 Mei 1995. Sedangkan pada 1998, perseroan menerbitkan saham baru tanpa penawaran hak memesan efek terlebih dahulu kepada pemegang saham sebanyak 12.500.000 saham. Di 2004, Budi Acid juga menerbitkan saham tani tanpa penawaran hak memesan efek terlebih dahulu kepada pemegang saham sebanyak 181.500.000 saham.
Sumber : http://www.alpensteel.com/
Dua buah isu global yang sering diperbincangkan masyarakat Indonesia dan dunia adalah mengenai krisis energi dan pemanasan global. Krisis energi yang dampaknya langsung bisa dirasakan adalah tingginya harga bahan bakar. Hal ini didorong oleh kenyataan bahwa kebutuhan (konsumen) terhadap bahan bakar semakin meningkat dengan pesat, sementara itu sumbernya makin berkurang. Sebagai konsenkuensi logis, tanpa bahan baku energi kehidupan ini tidak ada. Selain itu, penggunaan bahan bakar juga berdampak bagi bumi kita. Penggunaan bahan bakar dari minyak dan batu bara disinyalir sebagai penyebab utama terjadinya pemanasan global.
Biogas sebuah teknologi sederhana dan mudah untuk diaplikasikan dapat menjadi sebuah solusi yang baik untuk kedua permasalahan tersebut.
Apa itu biogas?
Biogas adalah gas produk akhir pencernaan atau degradasi anaerobik bahan-bahan organik oleh bakteri-bakteri anaerobik dalam lingkungan bebas oksigen atau udara (Tatang, 2006). Komponen terbesar (penyusun utama) biogas adalah metana (CH4, 54 � 80 %-vol) dan karbon dioksida (CO2, 20 � 45 %-vol).
Gambar diatas adalah beberapa aplikasi biogas dalam kehidupan sehari � sehari.
Pada prinsipnya proses produksi biogas, terjadi dua tahap yaitu penyiapan bahan baku dan proses penguraian anaerobik oleh mikroorganisme untuk menghasilkan gas metana.
Bahan Baku
Biogas berasal dari hasil fermentasi bahan-bahan organik diantaranya:
* Limbah tanaman : tebu, rumput-rumputan, jagung, gandum, dan lain-lain,
* Limbah dan hasil produksi : minyak, bagas, penggilingan padi, limbah sagu,
* Hasil samping industri : tembakau, limbah pengolahan buah-buahan dan sayuran, dedak, kain dari tekstil, ampas tebu dari industri gula dan tapioka, limbah cair industri tahu,
* Limbah perairan : alga laut, tumbuh-tumbuhan air,
* Limbah peternakan : kotoran sapi, kotoran kerbau, kotoran kambing, kotoran unggas.
Rasio ideal C/N untuk proses dekomposisi anaerob untuk menghasilkan metana adalah 30. C/N rasio dari beberapa bahan organik dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel Rasio C/N untuk berbagai bahan organik.
Proses Anaerob
Proses penguraian oleh mikroorganisme untuk menguraikan bahan-bahan organik terjadi secara anaerob. Proses anaerob adalah proses biologi yang berlangsung pada kondisi tanpa oksigen oleh mikroorganisme tertentu yang mampu mengubah senyawa organik menjadi metana (biogas). Proses ini banyak dikembangkan untuk mengolah kotoran hewan dan manusia atau air limbah yang kandungan bahan organiknya tinggi. Sisa pengolahan bahan organik dalam bentuk padat digunakan untuk kompos.
Secara umum, proses anaeorob terdiri dari empat tahap yakni: hidrolisis, pembentukan asam, pembentukan asetat dan pembentukan metana. Proses anaerob dikendalikan oleh dua golongan mikroorganisme (hidrolitik dan metanogen). Bakteri hidrolitik memecah senyawa organik kompleks menjadi senyawa yang lebih sederhana. Senyawa sederhana diuraikan oleh bakteri penghasil asam (acid-forming bacteria) menjadi asam lemak dengan berat molekul rendah seperti asam asetat dan asam butirat. Selanjutnya bakteri metanogenik mengubah asam-asam tersebut menjadi metana.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Aktivitas Mikroorganisme Anaerob
Laju proses anaerob yang tinggi sangat ditentukan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi mikroorganisme, diantaranya temperatur, pH, salinitas dan ion kuat, nutrisi, inhibisi dan kadar keracunan pada proses, dan konsentrasi padatan. Berikut ini adalah pembahasan tentang faktor-faktor tersebut.
Temperatur
Gabungan bakteri anaerob bekerja dibawah tiga kelompok temperatur utama. Temperatur kriofilik yakni kurang dari 20 C, mesofilik berlangsung pada temperatur 20-45 C (optimum pada 30-45) dan termofilik terjadi pada temperatur 40-80 C (optimum pada 55-75 C).
pH
Pada dekomposisi anaerob faktor pH sangat berperan, karena pada rentang pH yang tidak sesuai, mikroba tidak dapat tumbuh dengan maksimum dan bahkan dapat menyebabkan kematian yang pada akhirnya dapat menghambat perolehan gas metana. Berdasarkan beberapa percobaan pH optimum untuk memproduksi metana adalah rentang netral yaitu 6,2 sampai 7,6.
Nutrisi
Mikroorganisme membutuhkan beberapa vitamin esensial dan asam amino. Zat tersebut dapat disuplai ke media kultur dengan memberikan nutrisi tertentu untuk pertumbuhan dan metabolismenya. Selain itu juga dibutuhkan mikronutrien untuk meningkatkan aktivitas mikroorganisme, misalnya besi, magnesium, kalsium, natrium, barium, selenium, kobalt dan lain-lain (Malina,1992).
Keracunan dan Hambatan
Keracunan (toxicity) dan hambatan (inhibition) proses anaerob dapat disebabkan oleh berbagai hal, misalnya produk antara asam lemak mudah menguap (volatile) yang dapat mempengaruhi pH. Zat-zat penghambat lain terhadap aktivitas mikroorganisme pada proses anaerob diantaranya kandungan logam berat sianida.
Faktor Konsentrasi Padatan
Konsentrasi ideal padatan untuk memproduksi biogas adalah 7-9% kandungan kering. Kondisi ini dapat membuat proses digester anaerob berjalan dengan baik.
Penentuan Kadar Metana Dengan BMP
Uji BMP (Biochemical Methane Potential) ditunjukan untuk mengukur gas metana yang dihasilkan selama masa inkubasi secara anaerob pada media kimia. Uji BMP dilakukan dengan cara menempatkan cairan contoh, inokulan (biakan bakteri anaeorob) dan media kimia dalam botol serum. Botol serum ini, diinkubasi pada suhu 35oC, lalu pengukuran dilakukan selama masa inkubasi secara periodik (biasanya setiap 5 hari), sehingga pada akhir masa inkubasi (hari ke-30) didapatkan akumulasi gas metana. Pengukuran dilakukan dengan memasukkan jarum suntik (metoda syringe) ke botol serum.
Sumber: Soerawidjaja, Tatang H. 2006. Potensi Sumber Daya Hayati Indonesia dalam Penyediaan Berbagai Bentuk Energi. Program Studi Teknik Kimia.
http://www.dikti.org/biogas