Latest News

Showing posts with label Energi - Gas (LNG). Show all posts
Showing posts with label Energi - Gas (LNG). Show all posts

Wednesday, 6 July 2011

Pemerintah Pastikan Alokasi Terminal LNG Arun

Industri pengguna gas mendesak pemerintah segera menetapkan alokasi gas untuk merealisasikan proyek konversi fasilitas gas alam cair (LNG) Arun menjadi terminal penerima LNG yang menelan investasi US$80 juta.

Konsumen gas yang akan memanfaatkan alokasi gas tersebut, yakni PT Pupuk Iskandar Muda (105 MMscfd), PT Aceh Asean Fertilizer (70 MMscfd), PT Kertas Kraft Aceh (8 MMscfd), dan PT PLN (17 MMscfd). Penetapan alokasi gas itu diharapkan bisa tuntas pada Maret agar proyek berkapasitas 200 MMscfd itu bisa dilaksanakan mulai April 2011.

Dirut Pupuk Iskandar Muda Mashudianto mengatakan kepastian alokasi gas merupakan syarat bagi terlaksananya proyek konversi fasilitas LNG Arun menjadi terminal penerima.

Berdasarkan studi kelayakan, tuturnya, terminal penerima LNG tersebut bisa mendapatkan sumber pasokan LNG dari Tangguh pengalihan Sempra dan pasokan lain yang memungkinkan.

�Bisa juga impor tetapi yang paling bagus bisa mendapatkan LNG Tangguh pengalihan Sempra. Itu harus segera diputuskan pemerintah dalam hal ini Kementerian ESDM setidaknya bulan ini agar April bisa dilaksanakan proyeknya dan 2013 sudah bisa beroperasi,� katanya kepada Bisnis hari ini.

Mashudianto mengatakan penetapan alokasi tersebut harus sudah dalam bentuk keputusan volume, yaitu sebanyak 20 kargo LNG berikut harganya.

Sambil menunggu keputusan itu, setelah menuntaskan studi kelayakan, secara paralel PT Pertamina (Persero) selaku calon kuat operator terminal penerima LNG tersebut kini memproses detail engineering design (DED) proyek itu.

�Pelaksanaan DED, pembahasan alokasi gas, dan proses penetapan Pertamina selaku operator baru di sana dilaksanakan secara paralel. Untuk operator, sebenarnya idenya sudah disetujui Pertamina, tetapi masih menunggu formal letter dari Kementerian Keuangan,� katanya.

Mashudianto menambahkan dalam pembahasan mengenai penggunaan fasilitas LNG Arun, operator akan dikenakan biaya sewa oleh pemerintah. Secara indikatif, besaran sewa terminal LNG tersebut diperkirakan US$0,5 per juta British thermal unit (MMBtu).

�Biaya sewanya tidak terlalu besar karena depresiasi fasilitas itu sebenarnya hampir 0. Mungkin sekitar US$0,5 per juta Btu dan itu akan di-pass on kepada konsumen,� katanya.

Dengan acuan harga Tangguh South California plus biaya pengalihan US$0,8 per juta Btu, harga akhir LNG Tangguh di tingkat konsumen saat ini kemungkinan berkisar US$5�US$6 per juta Btu.(hl)

Sumber : http://www.bisnis.com/industri/manufaktur/15425-pemerintah-diminta-pastikan-alokasi-gas-terminal-lng-arun

Monday, 27 June 2011

Pemerintah telah memberi izin Pertamina untuk merevitalisasi penampung LNG Arun

Menteri Badan Usaha Milik Negara, Mustafa Abubakar, menyatakan pemerintah masih mengkaji pemanfaatan infrastruktur kilang gas alam cair (LNG) Arun di Lhokseumawe, Aceh, atau membangun tangki apung atau floating storage di Belawan, Sumatera Utara. Kedua upaya itu guna mencukupi kebutuhan gas di wilayah Aceh dan Sumatera Utara.

Namun, Mustafa mengatakan, pemerintah melalui Menteri Keuangan telah memberi izin PT Pertamina untuk merevitalisasi penampung LNG di Kilang Arun. "Tapi, kami masih mengkaji," kata Mustafa di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, di Jakarta, Senin 27 Juni 2010.

Saat ini, kata dia, Pertamina sudah mulai memperbaiki tangki timbun di Kilang LNG Arun. Sementara itu, tangki apung di Belawan, menurut Mustafa, saat ini masih dalam proses pra tender.

Sebelumnya, Dewan Perwakilan Rakyat menyarankan pemerintah untuk mempertimbangkan pembangunan tangki apung Belawan. Menurut DPR, investasi baru tangki apung sangat besar bila dibandingkan dengan biaya perbaikan tangki pendam di Arun.

Rencananya, untuk mencukupi kebutuhan gas bagi para sejumlah perusahaan di Aceh dan Sumatera Utara, pemerintah akan memasok gas dari Lapangan Tangguh, Papua. Namun, hal ini belum terlaksana, mengingat belum ada penyimpan LNG.

Saat ini, menurut DPR, beberapa perusahaan di Aceh nyaris bangkrut akibat kekurangan gas, seperti PT Asean Aceh Fertilizer, PT Kertas Kraft Aceh, industri aromatik, dan sejumlah pabrik lain. (art)

Sumber : http://bisnis.vivanews.com/news/read/229549-soal-lng-arun--ini-komentar-pemerintah

Sunday, 26 June 2011

Indonesia Kebut Produksi LNG dari Batubara Sebelum 2014

Pemerintah bertekad menjadi negara pertama penghasil LNG yang bersumber dari gas metana batu bara (CBM). LNG dari batubara ini diharapkan sudah dapat dihasilkan sebelum tahun 2014.

�Australia bertekad menghasilkan LNG dari CBM tahun 2014. Kalo kita ingin jadi pionir, maka sebelum itu sudah harus bisa menghasilkan LNG dari CBM,� kata Dirjen Migas Kementerian ESDM Evita H. Legowo dalam situs resmi Dirjen Migas, Minggu (6/6/2010).

Ia mengatakan, harapan ini dimungkinkan karena infrastruktur pendukung hal tersebut telah tersedia yaitu dengan menggunakan kilang Bontang. Jika LNG receiving terminal di Jawa Barat dan Sumatera telah selesai pada tahun 2011, maka LNG hasil bentukan dari CBM tersebut dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan di pulau Jawa dan Sumatera.

Sebelumnya Presiden Direktur Vico Indonesia Craig Steward, menyatakan tekadnya untuk memproduksi LNG dari CBM pada tahun 2012 dengan memanfaatkan kilang LNG Bontang.

Potensi CBM Indonesia sangat besar yaitu yaitu 453,3 TCF yang tersebar pada 11 cekungan hydrocarbon. Dari sumber daya tersebut, cadangan CBM sebesar 112,47 TCF, merupakan cadangan terbukti dan 57,60 TCF merupakan cadangan potensial.

CBM Indonesia berada di cekungan Sumatera Selatan (183 TCF), Barito (101,6 TCF), Kutei (89,4 TCF) dan Sumatera Tengah (52,5 TCF) untuk kategori high prospective. Cekungan Tarakan Utara (17,5 TCF), Berau (8,4 TCF), Ombilin (0,5 TCF), Pasir/Asam-Asam (3,0 TCF) dan Jatibarang (0,8) memiliki kategori medium. Sedangkan cekungan Sulawesi (2,0 TCF) dan Bengkulu (3,6 TCF) berkategori low prospective.

CBM telah diusahakan secara komersial di sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Kanada, China dan Australia. Berdasarkan evaluasi yang dilakukan Pemerintah, kondisi pengusahaan CBM di Indonesia lebih mendekati ke Powder River Basin USA dimana tingkat kematangan batu bara berada pada sub-bituminus.

Sumber : http://finance.detik.com/read/2010/06/06/120041/1370660/4/indonesia-kebut-produksi-lng-dari-batubara-sebelum-2014