Asia Tenggara dianugerahi sumber energi terbarukan, tapi pemerintah tidak pernah melakukan upaya serius untuk mengeksploitasi kekayaan alam itu. Para aktivis lingkungan menyatakan, banyak perusahaan swasta yang ingin mengembangkan energi terbarukan, namun terganjal keputusan politik sehingga sulit mengurangi ketergantungan pada sumber energi tradisional seperti minyak dan batubara.
Letusan Gunung Merapi di Indonesia dan Bulusan di Filipina menunjukkan besarnya kandungan panas bumi yang bisa dimanfaatkan untuk tenaga listrik di Asia Tenggara.
Pemerintah di kawasan Asia Tenggara beralasan pemanfaatan energi terbarukan, seperti panas matahari, angin dan tenaga air serta biomass, lebih mahal dibanding membangun pembangkit listrik yang menggunakan bahan bakar fosil.
Paul Curnow dari firma hukum Baker & McKenzie, yang mencermati kebijakan perubahan iklim, mengatakan, sebagian besar investasi energi terbarukan ada di Cina dan India.
�Para investor enggan berinvestasi di Asia Tenggara karena tidak didukung kebijakan politik yang baik. Jadi masalahnya bukan pada keuangan,� kata Paul.
Pasar untuk energi terbarukan di Asia Tenggara sangat bervariasi. Marc Lohoff, Presiden Direktur perusahaan panel surya Jerman, Conergy mengatakan, Thailand, yang memiliki keindahan pantai Phuket dan Krabi, sangat cocok untuk pengembangan energi panas matahari.
Sementara Filipina dan Malaysia juga memiliki potensi besar untuk pengembangan energi ramah lingkungan karena kedua negara itu sebenarnya sudah memiliki undang undang mengenai energi terbarukan.
Filipina mempunyai kekayaan panas bumi terbesar kedua setelah Amerika Serikat. Kongres sudah meloloskan Undang Undang Energi Terbarukan pada 2008, namun pemerintah belum mengeluarkan kebijakan soal pajak.
Menurut Marc Lohoff, pengembangan energi terbarukan di Asia Tenggara sangat bergantung pada insentif yang ditawarkan pemerintah pada investor. Insentif itu termasuk potongan dan bebas pajak untuk barang-barang yang diimpor seperti turbin angin dan panel surya.
Rafael Senga dari WWF Internasional mengatakan, untuk kasus Indonesia beda lagi. Meski memiliki 40 persen kandungan panas bumi dunia, pemerintah Jakarta belum mengeksploitasi kekayaan ini karena pasarnya yang dinilai kecil dan rumit.
Indonesia hanya menargetkan 9500 megawatt listrik dari panas bumi pada 2025, naik sedikit dari 1000 MW saat ini. Padahal potensi yang ada bisa menghasilkan 27 ribu MW, kata Senga.
Ia menambahkan, investor geothermal juga khawatir dengan dinamika politik yang terus terjadi sejak runtuhnya rejim Soeharto pada 1998.
Sementara itu, meski memiliki sumber daya alam terbatas, Singapura menjadi negara yang paling aktif mengembangkan energi terbarukan. Perusahaan energi Norwegia membuka fasilitas pabrik panel surya terbesar di dunia pada November 2010. Singapura juga menjadi kantor pusat bagi perusahaan turbin angin asal Denmark, Vestas.
Sumber: diolah dari berbagai sumber
Seiring dengan pertumbuhan penduduk, pengembangan wilayah, dan pembangunan dari tahun ke tahun, kebutuhan akan pemenuhan energi listrik dan juga bahan bakar secara nasional pun semakin besar. Selama ini kebutuhan energi dunia dipenuhi oleh sumber daya tak terbaharukan seperti minyak bumi dan batu bara. Namun tidak selamanya energi tersebut bisa mencukupi seluruh kebutuhan manusia dalam jangka waktu yang panjang mengingat cadangan energi yang semakin lama semakin menipis dan juga proses produksinya yang membutuhkan waktu jutaan tahun.
Menurut Dr. Sudiartono, Kepala Pusat Studi Energi (PSE) UGM, pemanfaatan sumber energi terbarukan menjadi solusi di masa datang untuk pemenuhan kebutuhan energi yang semakin lama semakin besar. Sumber daya energi terbarukan memiliki keunggulan yakni bisa diproduksi dalam waktu yang relatif tidak begitu lama dibanding dengan sumber energi takterbarukan. �Namun sumber daya terbarukan selama ini belum dimanfaatkan secara optimal di Indonesia,� tutur Sudiartono saat bincang-bincang dengan wartawan di ruang Multimedia UGM, Jum�at (27/3).
Sumber energi terbarukan seperti angin, air dan matahari merupakan penghasil energi yang belum begitu banyak dimanfaatkan. Dijelaskan Sudiartono, sebenarnya di Indonesia telah banyak dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) tetapi pada prakteknya tidak beroperasi secara maksimal. Hal ini disebabkan tidak adanya transfer pengetahuan kemasyarakat sehingga PLTM yang telah dibangun tidak beroperasi dengan baik apalagi memberikan manfaat. �Keberhasilan operasionalisasi PLTM akan terwujud jika ada pengelolaan dari masyarakat setempat,� tegas Sudiartono.
Lebih lanjut dipaparkan Sudiharto, Indonesia memiliki sumber-sumber air yan berlimpah, akan tetapi belum banyak yang berfikir untuk memanfaatkannya. Pemanfaatan aliran sungai sebagai sumber pembangkit listrik belum dilakukan. �Selama ini baru air terjun yang dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik. Padahal Indonesia memiliki banyak sungai besar yang bisa memproduksi energi yang besar, meskipun alirannya berjalan lambat, � jelasnya.
Dikatakan Sudiartono, tidak akan terjadi pembelian listrik dari Malayasia untuk digunakan di daerah pedalaman Kalimantan jika sungai telah dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik. Hal inilah yang menjadi tantangan bagi UGM serta perguruan tinggi lainnya untuk mengembangkan pemanfaatan sumber energi terbarukan.
Ia menambahkan bahwa untuk pengembangan PLTM kuncinya berada pada generator maupun turbin. Dan yang menjadi kendala adalah sampai saat ini Indonesia belum dapat memproduksi generator maupun turbin air sendiri serta memproduksi bahan bakar selain premium. �Penguasaan teknologi Khususnya teknologi energi harus dikuasai terlebih dahulu jika tidak ingin selamanya tergantung pada produk-produk teknologi energi dari negara maju. Tanpa adanya penguasaan teknologi eksplorasi dan eksploitasi serta teknologi pengelolaan sumber daya energi, maka kedaulatan energi tidak akan tercapai,� terang Sudiartono.
Sementara Drs. Budi Eka Nurcahyo, M.S., wakil kepala PSE UGM terkait dengan ancaman krisis energi bahan bakar yang akan dialami Indonesia sekitar 20-30 tahun mendatang, menghimbau untuk mengurangi ketergantungan terhadap pemakaian minyak bumi. Pengembangan bahan bakar nabati seperti bioetanol menjadi salah satu alternatif solusi untuk mencegah krisis energi di masa datang.
�Kebutuhan akan minyak bumi di Indonesia mencapai 1.300.000 barel/hari, sementara cadangan yang dimiliki hanya sebesar 900.000 barel/hari. Jadi tiap harinya kita nombok sekitar 400.000 barel untuk pemenuhan kebutuhan minyak bumi. Melalui pengembangan energi alternatif salah satunya bioetanol, dari energi nabati, bisa meminimalisir kemungkinan terjadinya krisis energi dimasa datang,� tandas Budi.
Budi menambahkan, membicarakan energi tidak hanya terkait dengan penggunaan energi saja. Namun terkait dengan perilaku dan kebiasaan manusia dalam menggunakan energi. �Kebiasaan manusia inilah yang menjadi pokok perhatian dalam pemanfaatan energi,� tukasnya.
Sumber : http://tekim.undip.ac.id/staf/istadi/2009/04/energi-terbarukan-solusi-krisis-energi-indonesia/