Latest News

Showing posts with label PLTN - peran masyarakat. Show all posts
Showing posts with label PLTN - peran masyarakat. Show all posts

Friday, 3 June 2011

PLTN Dapat Dukungan Masyarakat Peduli Energi Lingkungan

Masyarakat Peduli Energi Lingkungan (MPEL) bersama Masyarakat Energi Baru dan Terbarukan Indonesia (METI) sepakat untuk tetap mengembangkan pembangkit listrik energi nuklir di Indonesia.

Demikian disampaikan Ketua MPEL, Budi Sudarsono dalam pembukaan Seminar Internasional Energi Berkelanjutan untuk Pembagunan Nasional yang diadakan di Hotel Sultan Jakarta (9/5). �Mendukung energi nuklir untuk pembagunan Indonesia,� katanya.

Menurut Budi, bencana gempa dan tsunami yang menimpa Jepang juga berdampak pada PLTN yang terdapat di Fukhusima. Hal ini yang membuat masyrakat merasa takut dengan pengembangan tenaga nuklir. �Telah terjadinya kecelakaan fukushima menyebabkan bayang-bayang pembangunan PLTN sirna,� ujarnya.

Akan tetapi, lanjut Budi, hal tersebut tidak akan mengubah pendirian MPEL karena bencana di Jepang bukan disebabkan oleh meledaknya reaktor nuklir. �Tidak ada reaktor yang meledak, yang ada kepecahan hidrogen,� tuturnya.

Lebih lanjut Budi menjelaskan, semakin tingginya harga minyak dunia dan terbatasnya ketersediaan panas bumi menjadikan alasan perlunya pengembangan tenaga nuklir. �Tingginya harga minyak dunia menyeret harga minyak lain. Pengembangan nuklir, biaya dan modal lebih tinggi, tapi tetap unggul dari yang lain,� imbuhnya.

Selain itu, lanjut Budi, kelebihan energi yang dihasilkan oleh nuklir dapat dijadikan komoditas ekspor yang dapat menguntungkan bagi negara. �Bisa dieskpor kalau tidak dipakai,� pungkasnya.

Listrik Nuklir Bukan Senjata
Penggunaan energi nuklir untuk pembangkit listrik masih ditakutkan oleh masyarakat di dunia. Padahal pembangkit listrik nuklir ini menghasilkan energi yang sangat besar, bersih, dan aman.

Mantan Presiden Greenpeace Patrick Moore mengatakan, jangan disamakan bahaya senjata nuklir dengan energi nuklir. Pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) tidak dimaksudkan untuk membunuh masyarakat.

�Kita menganggap sama energi nuklir dan senjata nuklir. Kita tidak dapat menaruh PLTN untuk membunuh orang,� jelas Patrick dalam Seminar Internasional Energi Berkelanjutan untuk Pembagunan Nasional di Hotel Sultan, Jakarta, Senin (9/5).

Patrick menambahkan, beberapa berita yang mengabarkan dampak dari pemanfaatan tenaga nuklir sangat berbahaya bagi lingkungan dan manusia. Namun, sebenarnya tidak seperti itu. �Manusia yang cacat dan bayi yang lahir cacat tidak ada nuklir pun dapat terjadi,� jelasnya.

Lebih lanjut Patrick menambahkan, energi yang dianggap berbahaya bukan berarti tidak dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari. Setiap energi dapat digunakan untuk hal baik dan hal buruk. �Api adalah energi yang berbahaya, tapi kita tetap menggunakannya untuk memasak dan lain-lain,� katanya.

Dengan begitu, menurut Patrick, energi nuklir harus dimanfaatkan untuk menggantikan energi-energi lain. �Energi nuklir harus dimanfaatkan karena sangat bersih dan aman,� pungkasnya.(dtf/ant)

Sumber : http://www.medanbisnisdaily.com/

Wednesday, 1 June 2011

Masyarakat Peduli Energi Dukung Pembangunan Reaktor Nuklir

Masyarakat Peduli Energi dan Lingkungan Hidup (MPEL) mendukung pembangunan reaktor nuklir di Indonesia sebagai salah satu sumber energi alternatif, yang dapat menggantikan tenaga energi lain yang memakai sumber energi fosil.

"Kami sepakat tentang pembangunan reaktor nuklir karena terbatasnya minyak bumi dan batu bara," kata Ketua MPEL Budi Sudarsono dalam seminar tentang energi berkelanjutan yang digelar di Jakarta, Senin.

Budi memaparkan, peristiwa yang menimpa reaktor PLTN Fukushima pascatsunami di Jepang seharusnya tidak dijadikan dasar pembuktian untuk mengatakan bahwa pembangunan reaktor nuklir adalah sangat tidak aman.

Ia juga menuturkan, kecelakaan reaktor di pesisir timur Jepang itu juga tidak bisa disamakan dengan tragedi meledaknya reaktor nuklir Chernobyl di bekas negara Uni Sovyet pada 1986.

MPEL mengingatkan bahwa nuklir layak untuk digunakan karena biayanya yang relatif murah dan masih terbatasnya sumber energi fosil.

Namun ia mengingatkan agar pembangunan reaktor nuklir juga harus tetap dengan menerapkan prinsip pengelolaan yang berkelanjutan.

Sebelumnya, Direktur Jenderal Energi Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Luluk Sumiarso, dalam sejumlah kesempatan mengemukakan, pembangunan reaktor nuklir merupakan alternatif terakhir dan pemerintah terus mempersiapkan berbagai hal seperti dalam hal keamanan.

Mengenai peristiwa kecelakaan di PLTN Fukushima, Luluk mengemukakan bahwa hal itu akan menjadi bahan pengayaan di dalam hal peningkatan keamanan guna melaksanakan pembangunan reaktor nuklir.

Sedangkan Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), Mukhtasor, dalam rilisnya pada Maret 2011 mengemukakan bahwa kejadian di Jepang menjadi pelajaran penting untuk Indonesia.

Menurut Mukhtasor, program PLTN karena dibiayai oleh dana publik maka seharusnya program tersebut juga tidak boleh bersifat tertutup dan harus melibatkan publik seluas-luasnya terutama dalam aspek keselamatan serta penilaian kelayakan teknologi dan lokasi PLTN.

Ia juga menegaskan, kepentingan yang harus diutamakan adalah kepentingan publik dan tidak boleh ada kepentingan lain yang tidak relevan.
(M040/S004)

Sumber : http://www.antaranews.com/